Kejadian Menggetarkan di Ullen Sentalu
![]() |
| sikidang Travel |
Daerah
Istimewa Yogyakarta merupakan kota yang tinggi akan nilai-nilai kebudayaannya.
Banyaknya pusat budaya serta peninggalan-peninggalan sejarah, membuat kota ini
semakin menunjukkan jati dirinya. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di
bagian selatan Pulau Jawa, serta berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia.
Berdasarkan
sumber dari Wikipedia, daerah istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini
terdiri atas satu kota, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78
kapanewon/kemantren, dan 438 kalurahan/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010
memiliki populasi 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki, dan
1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km2.
Kota
ini banyak memiliki tempat destinasi wisata
yang patut untuk dikunjungi. Beberapa di antaranya, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Desa Wisata
Gunung Api Purba Nglanggeran, Museum Sisa
Hartaku Merapi, Malioboro,
Museum Batik dan Sulaman Yogya, Museum
Sonobudoyo, Museum Ullen Sentalu, Candi Prambanan, Candi Sambi Sari, Candi Ijo,
Tebing Breksi dan masih banyak lainnya yang tersebar di berbagai daerah.
Dari beberapa tempat di atas yang paling menarik
perhatian aku adalah Museum Ullen Sentalu. Aku baru tahu keberadaan museum
tersebut di tahun 2012, setahun setelah kepindahanku di kota ini. Itu juga
mengetahuinya setelah membaca buku pelajaran sejarah untuk SMU. Di situ ada
ketertarikan yang membuat penasaran.
Alhasil pada hari yang telah ditentukan, mendaratlah
aku di museum tersebut. Agak speechless sebenarnya,
ternyata tempatnya tidak jauh dari rumah. Alamatnya Jalan Boyong KM 25,
Kaliurang Barat, Sleman, Yogyakarta. Museum Ullen Sentalu terletak di area Taman
Wisata Kaliurang, 25 km utara pusat kota Yogyakarta.
Tempatnya sangat rindang, banyak pepohonan besar
membalutnya. Saking rindang suasananya, sampai hening sekaligus memberikan rasa
damai serta khidmat. Jujur saja kesan
pertama lebih kepada menaikkan bulu kuduk, mungkin saking sensitifnya
kulit aku. Sebelum masuk area, pengunjung diwajibkan menulis buku tamu
sekaligus didata terlebih dahulu untuk dibagi menjadi sebuah kelompok.
Fungsi dari kelompok yang dibentuk untuk memudahkan
dalam sistem pemanduan. Karena sistem kunjungan terbagi menjadi dua yaitu, Tur
Dipandu (Guided Tour) yang akan ditemani oleh Kurator dan Tur Bebas. Pembagian
ini dimaksudkan untuk menjamin aspek pendidikan dalam kunjungan dan tidak hanya
sekedar tamasya.
Melalui Kurator kita juga bisa bertanya langsung,
sehingga bisa mendapatkan penjelasan secara lengkap dan detail ketimbang
berinteraksi lewat touch-stone screen
atau keterangan pada label museum. Sebagian besar koleksi museum ini adalah
warisan budaya tak-benda yang diabadikan dalam bentuk lukisan naratif, sehingga
tidak dapat didokumentasikan oleh pengunjung sebagaimana lukisan portrait pada
umumnya.
Awalnya aku juga sempat kaget, karena sebelum masuk
area museum, sang Kurator memberikan aturan yang salah satunya tidak boleh mengambil
gambar pada area-area tertentu. Padahal saat itu senjata kamera sudah siap
ditangan. Mendadak terpintas dalam pikiran saat itu, apakah takut akan terjadi
hal-hal di luar nalar manusia? Seperti penampakan atau apalah namanya.
Tapi ya sudahlah, kita ikuti saja aturan yang ada.
Bukannya sebuah aturan ada memang tidak untuk dilanggar. Silakan saja kalau mau
melanggar aturan, asalkan jelas pertanggungjawabannya. Tidak semua aturan itu
juga menguntungkan semua pihak. Tergantung bagaimana kita memaknai fungsi dari
sebuah aturan.
Digiringlah rombongan masuk ke sebuah ruangan
pertama. Sebuah ruangan berisikan gamelan serta lukisan-lukisan yang
menggambarkan kisah di baliknya. Aura museum tersebut memang ‘sangat dalam’
menurut aku, banyak kisah yang bisa kita pelajari walaupun hanya dari sebuah
benda. Ada nilai filosofis yang membentang mulai dari Mataram kuno hingga
Mataram kini.
Beberapa lukisan yang terpajang di sana antara lain,
Lukisan Serimpi Sari Tunggal, Lukisan Menak Cina dan Rengganis: Sang Pemenang,
Lukisan Panji Plana, Lukisan Ibu Ageng: The Royal Melody, Lukisan Tumbuk Yuswa
Paku Alam VIII, Lukisan Prameswari, Lukisan Pasareyan Raja-raja, Lukisan Putri
Dalem dan Biyung Mban, Lukisan Darah Biru (GKR Timur dan Gusti Nurul), Lukisan
Putri Mangkunegaran dan Turangga, Lukisan Royal Blue: Garwa Kinasih dan Ratu
Mas: Merak Ati.
![]() |
| detikTravel |
Lukisan-lukisan tersebut tampak seperti nyata dan
memiliki aura yang bisa membuat kita ‘hanyut’ ketika melihatnya. Ditambah
penjelasan sang Kurator yang makin menambah larut suasana. Imajinasi akan
bayangan peran dalam kisah tersebut membangunkan kita untuk ikut dalam kejadian
tersebut. Ada juga beberapa lukisan di mana matanya bisa mengikuti ke mana kita
bergerak. Nyes, nyes di hati pokok rasanya.
Arsitektur museum ini sungguh apik. Mulai dari ruang
tata pamer, struktur ruangan dan lay out
bermacam bangunan. Bukan untuk tampil sendiri-sendiri tidak terintegrasi, tapi
menyatu dengan koleksi di dalamnya sehingga dapat mengingatkan kembali memori
kolektif sebuah peradaban yang sudah berlangsung ribuan tahun. Pun keberadaan
lorong-lorong yang harus dilewati makin menguatkan tampilannya.
![]() |
| detikTravel |
Saking larut pada suasananya, pernah suatu ketika
rombongan aku mengalami sebuah kejadian. Pada saat Kurator menjelaskan di sebuah tempat, tiba-tiba aku mendengar sebuah
ketokan berulang kali. Bunyinya seperti orang mengetuk pintu atau dinding.
Awalnya aku anggap angin lalu, tapi lama-lama makin keras dan durasinya makin
cepat. Jantung tetiba berdegup kencang.
Aku lirik kanan-kiri, mencoba mencermati sekitar,
aku perhatikan sepertinya beberapa orang juga sedang mengernyitkan keningnya
sembari langak-longok kebingungan. Berharap bukan aku saja yang mengalaminya,
kemudian bertanyalah kepada orang tersebut sambil berbisik. “Maaf, saya mau
tanya. Apakah Ibu mendengar suara seperti orang mengetuk pintu atau dinding
ya?” Dengan perlahan si ibu membalasnya, “Iya Mbak, saya mendengarnya.”
Lega ternyata bukan aku saja yang mengalaminya.
Sudah parno saja pikiran waktu itu. Lama-lama suara makin kencang terdengar,
dan pada akhirnya menghebohkan seisi ruangan. Bukan deg-deg-an lagi kalau
begini ceritanya, yang ada malah makin bertanya-tanya. Saking kencang suara ketukannya
sampai sang Kurator menghentikan penjelasannya sejenak. Sembari mencari
keberadaan suara tersebut.
Semua orang bingung mencari, termasuk aku. Selidik
punya selidik ternyata sumber suara menghebohkan itu berasal dari orang yang
tidak bisa membuka pintu toilet, kebetulan posisinya berdekatan dengan ruangan
yang saat itu aku kunjungi. Seisi ruangan menjadi lega, dan setelah menolong
orang tersebut acarapun berlanjut kembali.
Pada intinya bersikap bijak dalam menyikapi sesuatu
akan lebih elok ketimbang terkungkung dalam kebimbangan.
Ngomong-ngomong adakah
yang pernah mengalami kejadian serupa?





Komentar
Posting Komentar