Ayo! Kampanye #KejuAsliCheck Bersama Keju Kejutan Ibu
| Dok. bundakraft.com |
Libur telah
tiba
Libur telah
tiba
Hore! Hore!
Hore!
Libur telah
tiba
Libur telah
tiba
Hatiku
gembira
Wahh, tak terasa setelah beberapa saat sekolah mengadakan
pembelajaran tatap muka, dah ketemu lagi sama liburan. Ya, semenjak kasus covid
mulai melandai, beberapa sekolah yang sudah masuk zona hijau dan kuning
diperbolehkan menyelenggarakan pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap
menerapkan protokol kesehatan serta atas seizin orang tua masing-masing.
Dalam penyelenggaraan pembelajaran tersebut, tetap harus
memprioritaskan kesehatan dan keselamatan warga sekolah (siswa, guru dan semua
staff) serta masyarakat sekitarnya. Karenanya semua warga sekolah dalam hal ini
tenaga pendidik dan seluruh staff sekolah, harus sudah divaksin semuanya. Agar pelaksanaan
PTM akan lebih aman untuk dilakukan.
Selain itu demi mendukungnya kegiatan PTM, semua sekolah harus
memiliki akses yang layak seperti fasilitas air, sanitasi dan kebersihan sebelum
dapat dibuka kembali. Hal tersebut
dilakukan karena tersedianya fasilitas cuci tangan pakai sabun akan menambah
kepercayaan diri orang tua untuk mengizinkan anak-anak mereka kembali ke
sekolah. Pun ketersediaan sarana wash
atau water sanitation and hygiene
juga sangat diperlukan dan diwajibkan.
Setelah semua syarat-syarat terpenuhi, barulah sekolah bisa
menyelenggarakan PTM dengan tenang dan nyaman, tapi tetap terkontrol. Namun
meski demikian, PTM terbatas tersebut tidak serta merta menghilangkan fungsi
pembelajaran melalui daring (online). Karena tidak bisa dipungkiri bahwa peran
pembelajaran daring bisa dibilang efektif, salah satunya karena efektif jarak,
waktu, kemandirian dan tentu saja didasari selaras dengan kemajuan teknologi
dan informasi.
Sebenarnya secara umum baik pembelajaran daring maupun
pembelajaran tatap muka memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Tergantung bagaimana masing-masing memaknai fungsi dan kebutuhannya. Dan tentu
saja semua tidak lepas dari peran orang tua sebagai penentu kebijakan serta
anak sebagai pelaku kebijakan tersebut.
Intinya, apapun kebijakannya mari dimaknai dengan penuh
kearifan serta pemikiran yang matang dan visioner. Jangan ada prasangka buruk,
karena prasangka buruk ibarat awan hitam yang akan menutupi kebaikan. Jadikan
semua suatu kolaborasi apik, yang menghasilkan energi positif membangun.
Sebenarnya mau liburan atau enggak, saat ini agak tidak
berpengaruh sih. Ya, kan masih pandemi.
Semua kegiatan, kebanyakan dilakukan dari rumah. Baik itu sekolah, kerja bahkan
usaha pun bisa lebih fleksibel. Seperti halnya liburan yang sudah di depan mata. Mari siapkan
amunisi agar keluarga betah di rumah. Biar nggak bosan, yuks berkreasi dengan
makanan.
Hari gini kita harus pintar-pintar jaga kondisi, agar
terhindar dari serangan virus yang merajalela. Perlunya asupan nutrisi yang
bergizi membantu dalam meningkatkan imun dan ketahanan tubuh, terhadap berbagai
penyakit. Salah satunya dengan mengkonsumsi makanan yang kandungan gizinya
mencukupi. Terkadang kita suka lupa ketika membeli sebuah produk, apakah isi
kandungannya sudah mencukupi kebutuhan tubuh kita apa belum.
Misalnya saja dalam membeli produk keju. Secara umum mungkin
tidak ada yang berbeda satu dengan yang lain dari segi rasa. Yang namanya keju
rasanya ya asin, mungkin seperti itu pandangan awamnya. Tapi ternyata opini
tersebut salah besar. Ada perbedaan kentara dalam kandungan di setiap
produknya.
Bagaimana cara mengetahui, apakah produk tersebut bagus?
Membaca label pangan pada kemasan ketika ingin menentukan
keju cheddar dengan bahan baku yang tepat dan berkualitas adalah salah satu
caranya. Karena di Indonesia sendiri ada aturan yang mengatur tentang hal
tersebut. Yaitu, Peraturan
Badan POM No. 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
| Dok. Pribadi |
Fungsinya adalah memberikan informasi yang benar dan jelas terkait suatu produk agar pembeli atau masyarakat cerdas dalam menentukan pilihan. Trus, pastikan apakah keju pada urutan pertama komposisi (bukan air atau tepung) serta memiliki klaim nutrisi pada kemasan. Jadi harus benar-benar dicek keasliannya.
Apa saja yang perlu diperhatikan?
- susu
asli;
- keju
asli;
- tanpa
perisa tambahan;dan
- kalsium
setara tiga gelas susu.
Selain itu biasakan untuk mempelajari kandungan apa saja yang
ada di dalamnya. Misalnya, Kraft Cheddar 165g. Keju KRAFT yang merupakan salah
satu brand unggulan dari Mondelēz
Indonesia adalah keju olahan siap saji dengan rasa gurih keju spesial
dan tekstur yang lembut. Menghasilkan parutan yang lebih kering serta panggangan
yang lebih keemasan dan tanpa perisa tambahan. Memiliki informasi gizi per 1
serving (20g) seperti berikut ini.
- Energi 60 kkal/kcal
- Lemak 5g
- Lemak Jenuh 3g
- Protein 4g
- Karbo 1g
- Gula 0g
- Sodium 280mg
- Kolesterol 10mg
- Garam (Natrium)/Sodium 290mg
- Vitamin D 8%
- Kalsium/Calsium 10%
Produk ini memiliki tiga varian, yaitu cheddar 165 g, cheddar
75 g dan cheddar 35 g. Keju cheddar KRAFT tentunya telah memenuhi semua
kriteria yang dibutuhkan sesuai dengan kampanye #KejuAsliCheck serta peraturan
Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM).
Yaitu, komposisi bahan baku pada label pangan diurutkan
berdasarkan jumlah, dari kandungan yang tertinggi ke rendah. Selain itu keju
ini terbuat dari bahan utama keju asli New Zealand pada urutan pertama dan
dilengkapi dengan nutrisi calcimilk yang kaya akan kalsium, serta sumber
protein dan vitamin D.
Mengkonsumsi keju cheddar KRAFT secara rutin bisa membantu
memenuhi kebutuhan nutrisi harian, karena mempunyai kandungan yang dapat
memenuhi 30 persen kebutuhan kalsium harian, sumber vitamin D dan protein yang
merupakan salah satu komponen esensial dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Tinggal bagaimana penikmat selera dalam memenuhi kebutuhannya. Semua juga bisa
loh, berkreasi masakan menggunakan keju kraft. Tidak usah bingung dan pusing
semua ada di https://bundakraft.com/resep, tinggal klik aja di situ. Semua
kreasi dengan berbagai resep, makanan, bahan serta cara ada di sana.
Jadi bagaimana? Apakah semua sudah siap untuk menjadi ibu smart?! Yuks, rame-rame kita demo positif. Dengan cara, “Mengkampanyekan membaca label pangan pada kemasan” bersama #KejuAsliCheck. Menjadi pintar kan tidak harus memenangkan banyak perlombaan. Menjadi ‘racun positif’ dengan mengedukasi diri sendiri dan orang lain untuk bisa berwawasan luas juga salah satu cara untuk menjadi pintar.


Komentar
Posting Komentar