Berobat Ala BPJS
Episode 4
Setelah di episode yang lalu aku mondar mandir ngurusin
penjadwalan untuk ruang operasi, sekarang saatnya petualangan menuju hari H.
Tapi sebelum dieksekusi, aku tuh masih harus ngurusin administrasi terlebih
dahulu.
Jadi, pagi itu aku dan misua berangkat ke RS untuk penjadwalan
endoskopi. Kali ini aku datang lebih awal dari biasanya, karena ada beberapa
administrasi yang harus aku urus terlebih dahulu.
Antrilah aku di sebuah ruangan administrasi, namanya kalau nggak salah ingat “Penjaminan Pasien." Lokasinya berada di basement, dan harus
jalan di lorong-lorong gitu deh. Tempatnya mojok, dan sepi. Please, jangan
mbayangin yang aneh-aneh bin serem yah. Lok masalah yang serem-serem mah, aku
punya kisah tersendiri. Lain kali aja ngebahasnya, pas kondisinya aman
terkendali. Hehehehe.
Setelah proses catat mencatat kelar, digiringlah aku naek ke
lantai atas (entah lantai berapa aku lupa, hehehe). Untungnya waktu itu mas
petugasnya sekalian ada urusan juga di lantai yang sama, jadi nggak takut nyasar-nyasar
lagi kayak biasanya (maklum saking gede RS-nya).
Sembari berjalan menyusuri
lorong-lorong yang senyap, obrolan ringan pun memecah kesunyian. Tingg...dan
bunyi lift pun mengakhiri percakapan kami.
Berkas-berkas telah kelar disetujui, sedikit lagi menuju sebuah
kepastian. Dari lantai atas, aku pindah haluan ke lantai dasar alias menuju
sebuah gedung khusus untuk tindakan operasi.
Tiba di gedung tersebut, seperti
biasa ya, kudu laporan dan nyerahin berkas kembali. Habis itu, aku disuruh
nunggu di ruangan khusus “Ruang Tunggu Operasi." Namanya juga gedung operasi,
jadi suasananya bisa dibayangin kan kayak apa? Ya begitulah kira-kira.
Hehehehe.
Begitu masuk di ruang tunggu, yang ada pemandangannya pada
pasang muka serius, tegang, dan sunyi. Iya dong ya, kan di situ pada nungguin
keluarganya dioperasi. Masak iya pada joget-joget, yang ada malah kena usir
lah.
Tampak di pojok atas ada benda berbentuk kotak,yang nampak familier. Yak
betul, loudspeaker (pengeras suara). Jadi kalau pasien udah selesai dioperasi
atau sudah kelar dilakukan tindakan, petugas akan ngumumin lewat pengeras suara
tadi. Soalnya ruang tunggu dan ruangan operasinya kan terpisah, trus ruangan
operasinya itu tidak sembarang orang bisa keluar masuk dengan bebas. Harus
steril judulnya.
Irama jantung tiba-tiba menari disko, telapak tangan
sedingin es di kutub utara, ditambah lagi muka yang kayak abis pakek foundation
Ultima, campur Giorgio Armani Luminous Silk, tambah Charlotte Tilbury Magic,
plus Chanel Perfection Lumiere, dan dibalur bedak Yves Saint Laurent Lumiere Divine
Highlighting Finishing Powder Palette.
Weuw, kayak apa kira-kira itu ya
penampakan mukanya.
Perasaan campur aduk nggak karu-karuan kayak es campur yang
nyegerin banget, pokoknya nano-nano dah rasanya. Dan, akhirnya
datang juga. Giliran namaku disenandungkan benda kotak tadi.
Tanpa berlama-lama
lagi, aku bergegas menuju ruangan yang di depannya udah ada Pak Satpam, siap
menekan tombol merah, agar pintu membuka diri. Asal tau ya, tuh pintu nggak boleh
sembarangan maen buka-buka aja, ada kode tersendiri atau pasword istilah
kerennya. Dan yang tau cuma petugasnya aja, selain petugas dilarang tau dan nggak boleh tau. Biarkan hatiku aja yang bisa membaca kode cinta untukmu, prettt.
Masuklah aku di step
pertama, di situ aku udah disambut mas petugas yang udah pakek baju ijo-ijo,
pakek tutup kepala dan tak lupa masker yang menutupi kegantengannya. “Pagi Bu,
gimana? Udah siap kan Bu?” tanya babang yang keren nan tinggi semampai tadi.
Duh mas, jangan ditanya dah gimana perasaan aku saat ini, siap nggak siap ya kudu
siap lah! (dalam hatiku tapi). Bergegas aku ganti kostum yang disediakan. Baju
kebesaran berwarna ijo yang pasti udah nampak tak asing lagi bagi kelean.
Bisikan ranjang RS alias
suara roda didorong menyusuri lorong-lorong yang dingin, menambah adrenalin menjadi bergejolak. Perlahan melewati pintu-pintu yang bertuliskan “KO”
kamar operasi.
Lorong yang panjang membuat mataku tak lelah, memainkan
lirikannya yang dahsyat. Sesampai di depan meja administrasi, ranjang menepikan
dirinya menunggu perintah selanjutnya.
Berbaring menatap langit-langit ruangan
serba putih, menjadikan aku siap tuk memainkan imajinasi tingkat tinggi. Selang berapa lama,
sang ranjang mulai meneriakkan suara khasnya kembali.
Aku didorong menuju
sebuah ruang lagi, lebih tepatnya masuk kamar tindakan. Di ruangan itu ada
beberapa ranjang yang disekat semacam korden. Setiap bagian berisikan ranjang
khusus untuk tindakan, trus ada monitor dan beberapa piranti khusus yang memang
diperuntukkan sebagai alat tindak.
Setelah semuanya siap, dipindahlah aku ke
ranjang tindakan yang sudah disiapkan. Sudah siap
dieksekusi rupanya aku, dalam hati. Sambil menunggu kesiapan semuanya,
diam-diam aku mempelajari satu persatu alat yang hendak mengobrak-abrik tubuh
mungilku.
Satu persatu petugas hadir mengelilingi aku, dengan posisi sesuai
dengan tugas masing-masing. Betewe, ternyata perawatnya semuanya cowok loh, yang cewek cuma dokternya aja. OMG, pan ada perasaan sungkan dan agak nggak enak gimana gitu ya. Secara babang-babangnya masih muda nan rupawan, hehehe.
Aku tekan
ketengsinanku, berusaha fokus dengan apa yang ada di depan mata sekarang. Dokter
sudah memberikan kode kepada asistennya, saatnya action tiba. Mulailah dokter
menyemprot mulut aku dengan cairan, yang aku sendiri enggak tahu, sebenarnya itu
apaan. Yang jelas tuh cairan harus aku telan, jangan sampai enggak masuk ke tenggorokan.
Selang beberapa menit menunggu, sampai obat semprot tadi bekerja, dokter
menginstruksikan untuk memasukkan sebuah alat bantu. Bentuknya seperti corong,
yang berfungsi untuk memudahkan dokter memasukkan selang endoskopi ke dalam
mulut. Aku disuruh menggigit alat tersebut, sambil dibantu dipegangi oleh
babang cakep tadi, biar nggak lepas dan biar liurnya enggak ke mana-mana (duh maap
loh ya, bukan bermaksud jorok kok).
Nah, yang ini nih
yang ditunggu-tunggu. Dokter mulai memasukkan perlahan-lahan selang endoskopi
ke dalam mulut, tenggorokan, turun ke kerongkongan, lambung, dan usus kecil, khususnya di bagian atas.
Perlahan tapi
pasti alat mulai masuk menyusuri jalan setapak, dan perlahan pulalah aku makin
merasakan keenegan yang tak terbendung. Rasa pengen muntah, mual, nafas yang
cuma setengah, belom lagi rasa mengganjal dan aneh di dalam tubuh.
Sesekali dokter
memberikan instruksi pada babang-babang tamvan, dengan bahasa-bahasa yang aku
enggak paham sama sekali. Mata dokter serius memandang monitor, sambil
memberikan diagnosanya seperti apa.
Yang aku pikirkan saat itu hanyalah, kapan
selesainya? Aku udah nggak tahan sakitnya. Ketidaknyamanan membuat aku hilang
fokus, yang ada hanyalah kesakitan dan rasa keegoan yang ingin segera
membubarkan diri aja di situasi itu.
Bagaimanakah
kisah selanjutnya. Pantengin aja terus blog aku, follow juga boleh, biar bisa
update terkini tulisanku. Segini dolo yak kisahnya, kita sambungin aja ke episode selanjutnya. Biar kelean jadi pada hobi baca dan nggak kena
penyakit lupa. Okay, lanjut ke episode berikutnya ya. Cauuwwww....
Cerita sebelumnya
Bersambung ke



Komentar
Posting Komentar