Berobat Ala BPJS
Episode 3
Halluuuuuu, ada aku lagi. Gimana? Dah kangen ya
pengen mantengin petualangan aku lagi, setelah kemaren ngikuti proses panjang
yang belum berkesudahan. Kita lanjut yuk?! Setelah proses panjang nan berliku,
akhirnya penantian itu datang juga.
Karena aku dirujuk di RS tipe A lebih
tepatnya RS Sardjito, persiapannya juga harus lebih matang lagi dong ya. Maksudnya
apaan sih! Nah, berhubung RS Sardjito itu adalah rumah sakit rujukan dari
mana-mana, otomatis kan pasien juga dari segala penjuru juga toh? Lah, sebisa
mungkin kita juga harus menyesuaikan situasi dan kondisi.
Berangkatlah aku ke RS pagi-pagi sekali, berharap sampai di
sana tidak terlalu lama menunggu, supaya mendapatkan nomer antrian pendek.
Sesampainya di RS, aku agak sedikit berdecak kagum dan pangling. Sardjito yang pernah aku lihat, telah berubah menjadi
Sardjito yang baru. Mulai dari gedung, tata letak, sistem, bahkan pengunjungnya
pun lebih tertata rapi. Sekarang semuanya lebih terstruktur.
Seperti biasa ya, ada proses yang harus aku lalui. Karena
rujukan aku ditujukan ke Gastroenterologi klinik perut dan sistem pencernaan,
mencarilah aku ruangan yang berkutat di bidang itu.
Setelah melalui proses
antri daftar mendaftar, waktunya untuk menunggu panggilan. Radar keisengan pun
mulai dinyalakan, sembari duduk manis menunggu giliran, mata dan hati mulai
bermain kata-kata.
Lalu-lalang orang menarik perhatian mata, ditambah lagi
banyaknya dokter dan calon dokter yang kece dan masih kinyis-kinyis menyegarkan
sekaligus ngademin mata.
Tak bosen-bosennya hati ini bersenandung lirih,
menandakan kenormalan hakiki. Sesekali telinga memfokuskan diri mencari nama
yang sudah terpatri dalam jiwa, siapa lagi kalau bukan yang punya raga ini.
Sayup-sayup terdengar seseorang memanggil nama aku yang
sarat akan makna, and than masuklah
di sebuah ruangan yang ternyata sudah banyak penghuni di dalamnya.
Fiuhh, makin
membuat aku geleng-geleng kepala aja nih. Gimana nggak kagum,ternyata di dalam “ruangan
penyakit dalam” nggak cuma berisi satu klinik saja, tapi banyak klinik yang
menangani hal-hal khusus dan detail.
Misalnya ada klinik Gastroenterologi yang
fokus pada perut dan sistem pencernaan, ada klinik Imunologi spesialisasi medis
yang berkaitan dengan kekebalan dan semua aspek, dari kemampuan tubuh untuk
melawan infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh patogen (organisme penyebab
penyakit, yang biasanya adalah mikro-organisme). Dan masih ada beberapa lagi
yang laennya, saking banyaknya sampek lupa.
Setelah ditensi dan timbang berat badan plus interview
sedikit terkait sakit yang dirasakan, aku menunggu kembali di depan ruangan
yang bertuliskan “Gastroenterologi."
Tak berselang lama, aku pun dipanggil
untuk memasuki ruangan khusus tersebut. Begitu masuk, ada sosok berwibawa duduk
sambil mengalungkan stetoskop yang mencirikan bahwa beliau adalah seorang
dokter.
Kelean tau nggak sih apa itu stetoskop?
Stetoskop adalah alat medis yang fungsinya tidak hanya untuk
mendengar suara detak jantung saja, tetapi juga untuk mendengarkan suara organ
lain yang berada di dalam tubuh.
Beberapa organ yang bisa didengarkan oleh alat
ini di antaranya adalah suara organ pencernaan, paru-paru, bahkan sampai
suara janin yang masih di dalam kandungan pun bisa didengar detak
jantungnya.
Selain untuk mendengar suara-suara di dalam tubuh, dokter
juga akan menggunakan stetoskop untuk mendengar apakah terdapat sesuatu
yang tidak normal dari suara di dalam tubuh. Dengan begitu, diagnosis suara di
dalam tubuh lewat alat ini bisa membantu dokter memilih tindakan dan pengobatan
yang tepat untuk pasien.
Ya, begitulah sekelumit penjelasan terkait
stetoskop. Betewe, alat itu bisa nggak ya mendengar keluh kesah dan kegalauan
hati? Hehehehe. Kalau bisa pasti seru ya, jadi pengen beli alatnya.
Lanjut lagi
deh, sampek mana ya tadi? Oh ya, setelah masuk ruangan dan bersua dengan
dokter, duduklah aku di depan mejanya sambil mengamati sekeliling. Pemandangan yang tampak tak asing bagiku, ada singgasana
beserta pasangannya.
Yak betul, apalagi kalau bukan tempat tidur untuk
memeriksa dan monitor USG. Sebelum dilakukan pemeriksaan, seperti biasa ada
perbincangan yang dibahas seputar sakit yang dirasakan. Dokter David
melontarkan beberapa pertanyaan yang harus aku jawab. Kemudian prosedur
pemeriksaan dilakukan, biar lebih meyakinkan hasilnya seperti apa.
Setelah semua proses dilakukan, waktunya untuk mengambil
keputusan. Kira-kira apakah itu? Berdasarkan isi rujukan dari dokter yang
sebelumnya ditambah pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Dokter David, endoskopi
adalah jawabannya.
Dah pada tau kan endoskopi itu apa? Pasti sudah tau lah ya,
kan kelean pecinta blog aku. Hehehehe. Cek lebih detailnya di blog sebelumnya
ya.
Setengah jam berlalu, keluarlah aku sembari membawa map yang
berisikan berkas-berkas. Taudah isinya apa aja, yang jelas pasti berhubungan
dengan prosedur dan rekam medis aku. Sesuai instruksi dokter, aku bergegas
memasukkan berkas-berkas yang sudah tertera ke mana saja pos-pos yang harus
dilalui.
Tak berselang lama, namaku udah seperti orang terkenal saja, muncul di
loudspeaker RS dengan nyaringnya. Secepat kilat aku merespon dan bergegas
menghadap petugas administrasi.
Beberapa perintah dilontarkan sang petugas, sesuai dengan
alur yang ada. Ternyata prosedurnya banyak dan panjang. Dengan penuh
semangat, aku siapkan jurus jitu untuk menangkal kelelahan yang aku rasakan,
langsung saja kukeluarkan jurus Diamond Dust (Debu-debu Intan) - Saint Seiya.
Hiyattt ciaatttt.
Debu-debu Intan
sendiri adalah jurus yang dilancarkan oleh Cygnus Hyoga. Salah
satu yang paling populer di dalam kisah anime Saint Seiya.
Ok, kita lewatkan dulu kisah anime-nya, lanjut petualangan
aku lagi. Berjalan menyusuri lorong-lorong RS, dari lantai atas terjun bebas ke
lantai dasar, menuju gedung khusus untuk persiapan tindakan operasi. Tampak kaki yang
sudah mulai berat tuk melangkah, ditambah auman perut yang meraung-raung
meminta asupan.
Dengan langkah gontai, sampai juga di sebuah gedung yang tinggi menjulang, dengan
pemandangan yang nampak tak biasa. Tampang-tampang serius mengiasi ruangan
tersebut.
Masuklah aku ke lift menuju lantai 4, tepatnya ke ruangan
administrasi untuk penjadwalan operasi. Longak longok tanda ketidakpahaman apa yang harus aku lakuin, ditambah
lagi ruangan yang sunyi senyap tanpa ada lalu lalang makhluk.
Tak lama ada Pak
Satpam sedang melaksanakan dan mengabdikan dirinya untuk memeriksa situasi dan
kondisi. Bergegas aku menyodorkan berkas kepadanya, untuk meminta kepastian.
Dengan sigap sang bapak mengarahkan aku menuju sebuah ruangan, yang ternyata
memang lagi tak berpenghuni alias kosong.
Tak lama kemudian, petugas pun datang tergopoh-gopoh setelah
mendapat pesan dari Pak Satpam. “Terima kasih Bapak," ucapku pada Pak Satpam yang baek hati tersebut dengan sumringah.
Segera
aku serahkan berkas-berkas penting tersebut, karena data-data harus masuk
sebelum jam 12.00 wib. Kok gitu? Ya iyalah, kan itu berkas pengajuan buat
pemakaian ruang operasi. Kalau data nggak masuk dulu di ruangan tersebut, kan
pihak RS tidak bisa menjadwalkan ruangan untuk tindakan operasi. Secara tau
sendiri kan, yang namanya proses operasi itu ga sebentar. Persiapannya panjang,
mulai dari persiapan ruangan, peralatan, dokter, dan printilan-printilannya.
Wahh, udah panjang aja nih ceritanya. Kita sambung aja lagi
deh ya, ke episode selanjutnya. Soalnya dah overload nih tulisannya. Dah lebih seribu kata tau! Ntar kelean bosen lok kepanjangan. Baeklah, tungguin lagi petualangan aku selanjutnya.
Cerita sebelumnya
Bersambung ke https://pendekarsapu.blogspot.com/2020/03/jalan-panjang-nan-berliku-menuju-sebuah.html



Komentar
Posting Komentar