Kisah Kasih Si Peri Gigi
Tetiba jadi
pengen ngeluarin uneg-uneg, setelah keingetan kejadian setahun yang lalu. Hemm,
rasanya campur aduk nggak karuan lok inget kejadian waktu itu. Berawal dari
keinginan aku untuk cabut gigi depan yang bertumpuk, cause gigi aku jadi acak adut kelihatannya lok kagak dicabut.
Karena aku sebagai pengguna kartu kesehatan yang sakti alias gratis, itu kalau digunakan sesuai prosedur loh ya (ntar aku jelasin di laen
kesempatan). So, aku putusin pakek aja tuh kartu buat ngelancarin aksi.
Berniat modal nekat dan pasrah, berangkatlah ke tempat tujuan di mana harus aku tanggalin tuh gigi kesayangan yang sudah menemani dengan setia selama
bertahun-tahun nemplok di mulut aku.
Tanpa
berlama-lama, akhirnya sampek juga di tempat tujuan, di sebuah puskesmas
ternama di deket tempat aku tinggal. Perasaan waktu itu udah berangkat pagi, eh
ternyata nyampek sana parkiran dah dibanjiri para kaum yang lagi butuh 'belaian' dokter.
Sebagai warga negara yang baik, antrilah aku pada tempat sesuai dengan urutannya
(ingat taati aturan yak). Sambil nunggu antrian, si mata otomatis
bergerak ke sana kemari ngliatin orang lalu lalang beserta dengan pernak-pernik
yang bikin menarik. Biasalah, manusia sukanya iseng, dan rasa selalu pengen
berkomentar kalau ada sesuatu yang bikin menggelitik, termasuk aku dong, hehehe. Harap maklum manusia nggak ada yang sempurna.
Finally, datang juga giliran aku, dengan
perasaan dag dig dug der, masuklah di sebuah ruangan yang dingin dipenuhi
dengan aroma khas, dengan singgasana serta uborampenya
yang khas ala suasana tempat dokter
gigi beraksi. “Selamat pagi...," sapa ramah sang dokter meluluhkan ketakutan yang melanda.
Setelah berbincang-bincang ringan terkait kronologis si gigi, sang dokter dengan
penuh semangat mempersilakan untuk menduduki kursi panas yang tersedia di
depan mata.
Agak was-was juga sebenarnya, ada perasaan bergelayut dalam pikiran
dan hati aku, kok dokter nggak nyuruh aku rontgen gigi dulu ya? Tapi ya
sudahlah, aku coba tepis dan hempaskan jauh-jauh perasaan mengganjal itu,
dokter yang berwenang dalam hal ini pasti lebih paham dong?!
Sambil
komat-kamit bercengkerama dengan hati kecil, aku mantapkan untuk tenang dan
ngikutin alur. Sayup-sayup terdengar suara alunan piranti perang sang dokter
menggelitik telinga, “Saya mau mulai suntikkan bius ya," kata sang
dokter. Dan ... maknyus rasanya, seperti jargon Pak Bondan. Ada getaran merasuk
jiwa menyesakkan raga, ya pokoknya gitu deh.
Sambil nunggu si bius bekerja, aku menerawang menatap langit-langit ruangan dengan penuh makna, berharap kisah si Peri
Gigi segera berlalu.
Showtime, saatnya
beraksi beybeh, jari lentik sang dokter menari-nari manja di dalam mulut aku. Hemm,
tapi kok ada yang aneh ya, apa yang aku takutin kejadian. Peri Gigi
bertransformasi bak Zombi yang siap menerkam terjang mangsanya.
OMG, si Peri Gigi
rupanya tak mau pisah dengan pujaan hatinya. Tarik ulur pertikaian Sang Dokter
vs Peri Gigi menjadikan aku pihak yang lemah. Jantung berdegup tak karuan,
keringat mengucur deras, membuat pati rasa (bius) menjadi kebal, alhasil air
mata mengalir perlahan menyusuri pipi.
Pergulatan batin dan melemahnya raga
membuat aku memutuskan mengibarkan bendera putih, begitu juga hal yang sama
yang dirasakan sang dokter. Perasaan dongkol,
menyesal, serta cemas dengan keberlangsungan nasib si Peri Gigi yang telah
koyak tak berdaya memilih setia mengakar.
Ingin rasanya aku hempaskan kekesalan
yang melanda. Untung kelean nggak ada di depan mata, jadi aman dari serangan
kamehame ala son go ku di pilem Dragon
Ball.
Sang dokter menorehkan tinta hitam di atas kertas putih yang tak bernoda,
serta mengumandangkan kalimat yang menjadi pukulan telak. “Saya rujuk ya ke
RS....," OMG, rasa pengen ngulek sambel aja kala itu ( level 15 ya karetnya
yang merah ). Tapi apa daya, nasi udah jadi bubur, tinggal tambahi krupuk,
suwiran ayam ama sambel kecap.
Padahal saat itu adalah hari sabtu dan jam
menunjukkan angka 12.00. Bayangin, misal aku ngikutin proses rujuk
merujuk, harus berapa lama lagi aku menunggu, sedangkan si Peri Gigi udah berontak aja
dia dalam mulut. So, aku putusin
pulang aja dengan membawa perasaan kuciwa berat, membawa kenangan pahit tak
terperihkan.
Di perjalanan perasaanku dah nggak enak banget. Bener dah, sampek rumah alhasil langsung kena semprot sama misua. Sedari awal babe
(panggilan misua aku), udah ragu lok harus cabut di puskesmas (sorry, bukan bermaksud apa-apa), tapi apa daya aku aja yang ngeyel.
Harap maklum lah ya, secara aku emak-emak yang ilmu
managemennya tingkat akut, maksud hati pengen ngirit ehh malah ngorot jadinya.
Berhubung si Peri
Gigi udah mesti kudu wajib (abaikan kalimat efektif ya, maaf keluar jalur) dipisahin
dari empunya yang punya wilayah, aku putusin secepat kilat lari dari kenyataan menuju ke sebuah rumah
sakit terkenal dan sangat kredibel di sini (Yogyakarta ya tentunya).
Nah, bagaimanakah
nasib kisah si Peri Gigi selanjutnya, ikutin terus yak kisah kasih blog aku dengan
jurus-jurus mautnya, yang syarat akan makna.



Komentar
Posting Komentar