Berobat Ala BPJS



Episode 2


       Jumpa lagi, jumpa aku di sini (ingat lagunya Meisi dulu kan). Yuk, nyambungin lagi petualangan kemaren yang sempet tertunda. Siapa lagi kalau bukan si perut dengan jurus-jurus mautnya. Kira-kira kali ini si perut ngeluarin jurus apa lagi ya, penasaran kan? Sama, aku juga. Dari pada sama-sama penasaran, langsung aja deh, simak kisahnya.

      Setelah kemaren menunggu jadwal dokter radiologi, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Sampailah di sebuah ruangan yang dilengkapi dengan bermacam model perlengkapan yang bisa membuat bulu kudu merinding, kaya liat apaan aja! Abaikan jika sedikit lebay. 

      Tak beda dengan dokter sebelumnya, penampakan kali ini pun sama, sama-sama punya senyum sumringah dan suara halus ngademin seisi ruangan yang tampak horor. Halah! Lebay tingkat akut.

      Well, berbaringlah aku di atas singgasana yang sudah dipersiapkan. Sembari mata yang tak pernah lelah belanja ke mana-mana. Keliatan banget lok suka nge-mall ya? 

      Sambil komat-kamit dalam hati berharap tidak terjadi sesuatu yang serius. “Maaf, saya buka bajunya sedikit ya....” Jeng-jeng diapain coba aku, “Saya mulai memberikan jel ya, jadi rasanya akan dingin di perut," apa aja deh dokter yang penting aku sembuh (dalam hati tapi,hehehe).

      Mulailah ada pergerakan, alat menari-nari dengan riangnya di atas perut aku. Dokter menjelaskan satu persatu organ dalam aku dengan sangat detail, sambil sesekali bercanda renyah (krupuk kalee). 

      Pergulatan terjadi kurang lebih lima belas menit-an, dengan hasil semuanya bagus. Tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan alias membahayakan.

      Alhamdulillah, seneng dong ya. Lah, tapi aku jadi makin bertanya-tanya nih? Nah, sebenarnya ada apa dengan aku (sorry, aku bukan Dian Sastro, jadi bukan “Ada Apa Dengan Cinta”).

      Dokter Radiologi memberikan goresan pena kepada asistennya dan entah apakah isinya. Aku tak berani bertanya, lagian bukan buat aku juga ngapain tanya-tanya, ntar dibilang kepo lagi. “Hasil diambil tiga hari lagi dan pada saat periksa harap dibawa, biar bisa diobservasi oleh dokter yang berwenang," begitulah wejangan sang dokter.

       Di sinilah aku kadang merasa lelah. Ada perasaan sedih, capek, galau, sakit, pokoknya semua campur aduk dah. Kelean ga bakal kuat, biar aku aja yang merasakannya (maaf ya Babang Dilan, aku cuplik sedikit). 

      Tapi dengan cepat rasa semua itu sirna, setelah melihat si kecilku yang kemaren Februari berusia 6 tahun, selalu semangat mengantar ibunya mondar mandir. Bahkan tak pernah ada kata protes sedikitpun dari mulut mungilnya. Ditambah lagi sikap dan support pasangan aku, yang membuat aku kuat kembali, seperti Satria Baja Hitam dengan jargonnya “Berubah."

       Duh, kok jadi melankolis kita. Yuk ah, lanjut lagi. Nah, setelah tiga hari berlalu, kembali lagi dong aku ke sana. Seperti biasa, kelean sudah pasti hapal rute yang harus dilalui. 

      Yak betul, “Prosedur mengantri." Ga bisa dipungkiri ya, apapun urusannya kita bakal ketemu dengan yang namanya “Prosedur." Jadi sebagai warga negara yang baik, mari kita taat aturan yang sudah ditetapkan (kali ini agak serius raut mukanya).

      Panggilan nama yang tak asing di telinga, membuat aku bergerak menuju sebuah ruangan yang sudah sangat bersahabat. Wajah yang nampak familier membuat tak ada rasa canggung lagi di antara kami. 

      Perbincangan pun dimulai, kali ini berlangsung agak intens, karena ga  hanya melihat pemeriksaan secara fisik saja, tapi juga sang dokter harus menganalisa hasil lab aku waktu itu.

      Perjuangan belum berakhir sampai di situ saja ternyata, hasil akhir menyatakan bahwa aku harus naek lagi ke RS yang tingkatannya lebih tinggi lagi. Ya, RS tipe A lebih tepatnya RS Sardjito (karena aku sudah punya rekam medis di sana waktu operasi batu empedu). 

      Alasan sang dokter merujuk aku ke RS yang tipenya lebih tinggi sudah tepat, karena memang sudah sesuai prosedur. Biar segera ditemukan penyebab sakitnya apa, karena aku butuh diperiksa dengan menggunakan perlengkapan yang mumpuni. 

      Endoskopi, ya, itulah istilah kedokteran yang harus aku lalui. Apakah Endoskopi itu? Prosedur pemeriksaan yang bertujuan untuk melihat kondisi organ tubuh tertentu secara visual, dengan menggunakan alat khusus yang disebut endoskop. Selain untuk pemeriksaan, endoskopi juga dapat digunakan sebagai prosedur pembedahan.

      Endoskop merupakan alat berbentuk seperti selang lentur yang dilengkapi dengan kamera pada bagian ujungnya, yang dapat disambungkan ke monitor untuk memproyeksikan gambar yang ditangkap. Endoskop dapat dimasukkan ke dalam tubuh melalui rongga tubuh, seperti mulut, hidung, anus, atau melalui irisan kulit (insisi) yang dibuat khusus untuk endoskopi.

      Selain untuk pengamatan organ tubuh secara visual, endoskopi juga dapat memfasilitasi dokter untuk melakukan pembedahan pada organ tubuh. Endoskopi juga dapat memfasilitasi pengangkatan jaringan tubuh untuk keperluan tindakan medis atau pengambilan sampel jaringan (biopsi). Berdasarkan organ tubuh yang diamati, endoskopi dibagi menjadi beberapa jenis (lebih lengkapnya bisa baca di alodokter.com)

      Ya begitulah kira-kira prosesnya, agak sedikit ngeri ga sih? Dah, nggak usah dibayangin, ntar malah nggak bisa tidur tujuh hari tujuh malam loh. Mending pantengin aja nih petualangan aku, kale aja bisa jadi referensi buat kelean yang lagi butuh informasi terkait ini. 

       Sebenarnya yang jadi pertanyaan aku adalah, sakit nggak sih? Bisa jadi itu merupakan pertanyaan umum yang bakal ditanyakan mereka-mereka yang mengalami nasib sama dengan aku.

       Nah, daripada berandai-andai, lebih baik kita tunggu aja ya petualangan aku yang sesungguhnya. Tapi entaran aja ya, lanjut ke level berikutnya. Tetep pantengin blog aku ok.

Cerita sebelumnya
 https://pendekarsapu.blogspot.com/2020/02/jalan-panjang-nan-berliku-menuju-sebuah.html



Komentar

Postingan Populer