Kisah Kasih Si Peri Gigi




BAG 2

     Hai, ada aku di mari lagi. Pada penasaran yak ama kisah lanjutan Peri Gigi. Nih, aku dah siapin senjata pamungkas, buat ngupas tuntas si Peri Gigi kesayangan. Kalok kelean bingung dengan kisah yang ini, kelean kudu pantengin dulu kisah si Peri Gigi  yang lalu ( ada di blog aku sebelumnya ya ). Ok, langsung aja kita ke TKP.

      Setelah kemaren aku putusin buat lari dari kenyataan menuju kepastian, akhirnya aku menemukan tambatan akhir buat si Peri Gigi. Di sinilah kisah akhir dari si Peri Gigi dimulai. Sore itu tibalah di sebuah tempat rumah sakit terkenal dan sangat kredibel di kota aku (Jogja). 

      Sebenarnya lebih tepat dikata mall ketimbang rumah sakit. Gimana enggak, begitu masuk dah disambut dengan semerbak aroma bakerry paporit aku, bersanding aroma kopi yang menenangkan jiwa, diiringi alunan gamelan yang bikin adem. Abis itu disambut ama embak-embak cakep nan ramah, sembari mengeluarkan jurus jitu, “Ada yang bisa saya bantu?” Bisa banget dong, secara kondisi dah seperti ini.

      Berkutatlah aku sama embak-embak anggun tersebut. Nggak lama setelah proses catat mencatat selesai, kaki membimbingku melangkah ke ruangan yang bertuliskan “GIGI”. Sebelum masuk ke ruangan, seperti biasa ditensi dulu ya, biar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

      Abis semua proses kelar, mata tertuju pada sebuah kursi tak bertuan yang siap untuk ‘dihangatkan’. Perasaan was-was, campur aduk layaknya gado-gado langganan aku yang nagihin banget.

      Tak berselang lama, mbak perawat menyebut sebuah nama yang udah ga asing lagi bagiku. Kaki melangkah dengan penuh semangat kali ini, berharap si Peri Gigi yang sudah mulai tak bersahabat lagi bisa segera dimusiumkan. Dokter mempersilakan aku ngeluarin uneg-uneg, yang sekiranya bisa membuatnya tanggap apa yang aku rasain. 

      Well, sesi curhat telah kelar, waktunya menduduki kursi panas. Setelah diperiksa dengan seksama, akhirnya dokter mengerti apa yang menjadi beban hidup aku (jiahh dalem amet ya). Tak perlu berlama-lama lagi bagi dokter untuk menyelami kondisi si Peri Gigi. 

      Sepucuk resep disodorkan agar bisa segera membelinya dan titah agar aku melakukan rontgen gigi. Dokter berpesan supaya aku meminum obatnya terlebih dahulu selama seminggu, sebelum proses eksekusi si Peri Gigi dilaksanakan. Obat juga berfungsi untuk meredakan rasa sakit akibat koyakan waktu itu (episode pertama ya).

      Karena kondisi si Peri Gigi belum memungkinkan untuk dicabut, aku mesti rela berbagi ruang kembali dengannya. Baiklah kalau begitu, jalan satu-satunya adalah bersabar menunggu sampek waktu itu tiba. 

     Pulanglah dengan perasaan lega dan setengah kecewa. Lega imbas gagal misi pencabutan berefek rasa sakit  telah mendapatkan penawarnya, kecewa karena nggak bisa pisah dengan si Peri Gigi dan harus merogoh kocek dalam-dalam.

     Perputaran siang malam, hari berganti hari, seminggu terlewati tanpa terasa. Raga berhasil mendaratkan diri juga di mari, sebuah tempat yang bakal ketulis dalam sejarah kehidupan aku. 

     Seperti biasa, penyambutan khas ala tempat bakery kenamaan. Indera penciuman yang sensitif tak akan bisa dikelabui oleh aroma cake, serta pekatnya kopi menembus relung-relung jiwa.

     Aku harus berkutat dengan proses yang sama untuk berhasil menduduki ruang tunggu yang bertuliskan “GIGI”. Sabar serta disiplin yang tinggi adalah proses yang harus dilalui, agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal. 

     Menunggu bukan suatu hal yang langka bagiku, udah terlalu kenyang rasanya jika harus berkonflik dengannya. Satu jam berlalu, akhirnya dipanggil juga masuk ke dalam ruangan yang tampak tak asing lagi. 

     Senyum dokter mengalihkan pandangan aku dari kursi panas yang seolah-olah melambaikan dirinya, untuk segera menarik raga tuk menghampirinya. Setelah bincang ‘sersan’ alias serius tapi santai, saatnya sang dokter menarikan jari jemarinya menarik perhatian si Peri Gigi.

     Sembari menunggu bius bekerja, aku disuguhi tontonan menarik yang lumayan bisa mengalihkan rasa takut. Tak berselang lama, dokter menghampiri dan siap beraksi. Kericuhan pun terjadi, pertikaian sengit antara si Peri Gigi vs dokter dimulai kembali. 

     Kali ini tak berlangsung lama, pada akhirnya sang dokter berhasil memisahkan si Peri Gigi dari cengkraman. Terkejut, senang, serta takjub, berkecamuk dalam pikiran. Bagaimana tidak? Kok dengan mudahnya kali ini dokter memisahkan si Peri Gigi dengan jurus mautnya, “Pukulan Dewa Topan Menggusur Gunung” milik Wirosableng. 

     Setelah sebelumnya melalui drama yang panjang sampek menjadi 2 episode, akhirnya beban itu musnah juga dari peredaran. Ternyata kelihaian, ketelatenan, serta ketelitian, menjadi senjata yang sangat ampuh bagi sang dokter untuk melumpuhkan kesaktian si Peri Gigi. 

     Dengan suka cita, aku meninggalkan arena peraduan yang meninggalkan kisah dramatis, serta membawa segenggam kenangan yang tak terlupakan.

     Saatnya memberikan untaian kata yang bisa kita ambil dari kisah di atas ya.

Persiapan yang bisa kita lakukan sebelum mencabut gigi yaitu
  • Pertama, siapkan asuransi kesehatan yang kita punya. Lumayan kan buat menghemat biaya, secara kalau berurusan dengan gigi tuh pasti jatuhnya berat diongkos alias bikin kantong jebol. Misal nggak punya asuransi kesehatan, browsing dulu biayanya atau bisa bertanya ke teman yang sudah berpengalaman, dan bisa juga langsung bertanya di tempat dokter gigi tersebut praktek.
  • Kedua, sebelum memutuskan ke dokter gigi, cari referensi dokter sebanyak-banyaknya terlebih dahulu. Bisa dari teman yang telah berpengalaman atau cari info lewat internet, medsos dan kawan-kawan.
  • Ketiga, banyak baca terkait sakit yang dirasakan. Jadi ketika kita sudah siap menghadap dokter, kita sudah ngantongin banyak pertanyaan yang akan disampaikan.
  • keempat, jika diperlukan tindakan operasi ataupun pencabutan, jangan lupa mempersiapkan diri. Berdoa, tenangkan diri nggak usah panik, kalau perlu bawa temen sebagai support serta sebagai asisten bila diperlukan, dan yang paling utama jangan lupa makan, serta istirahat yang cukup sebelum dieksekusi biar badan nggak drop.
  • Kelima, disiplin dan patuhi aturan-aturan yang dianjurkan dokter. 


      So, demikianlah sedikit bagi kisah. Semoga bisa bermanfaat buat kelean pembaca setia blog aku. Sampek ketemu di kisah-kisah yang laen ya.

 








Komentar

Postingan Populer