Dia Tak Kasat Mata
Malam itu seperti biasa aku
sempatkan diri bersantai sejenak bercanda bersama keluarga, sebelum pada
akhirnya aku harus berjibaku dengan tugas yang siap dieksekusi.
Beberapa saat
kemudian kumelangkah membuka pintu kamar, menyegerakan tuk menyelesaikan
tugas tersebut. Malam itu gemericik hujan berdendang syahdu di telinga,
menghanyutkan perasaan yang mulai terbawa ke alam bawah sadar.
Beratnya tugas yang harus terselesaikan membuat mata ini tak mampu lagi menahan kantuk yang menggoda,
keteguhan hati harus bisa memberontak demi terselesaikannya sebuah tugas
penting. Dengan penuh konsentrasi dan usaha yang keras agar semua dapat
terselesaikan dengan semestinya, tanpa mengulur waktu lagi agar bisa segera
merebahkan diri dalam dekapan guling kesayangan.
Detik demi detik berlalu
melewatkan sunyinya malam yang senyap, hampir hening tanpa suara. Kulihat
keluar kamar, semua tampak mengistirahatkan raga mereka yang tampak lelah. Apa
daya, aku harus melewatkan malam sendiri ditemani nyanyian gemericik air.
Dan mata makin tak lagi bersahabat sepertinya, lalu kuputuskan untuk pergi ke
dapur membuat sebuah amunisi.
Berbekal secangkir kopi favorit
yang menenangkan jiwa, membuat pikiran bekerja kembali layaknya HP yang
baru dicas. Kunyalakan musik agar suasana tampak hangat, sehangat kopi di depan
mata. Perlahan tapi pasti, tugas nampak menemukan kejelasan tuk
segera diakhiri alias kelar bahasa
kerennya.
Jam menunjukkan bahwa aku
telah over limit. Tengah malam yang
benar-benar syahdu, membuat aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan.
Kulirik jam di depan mata yang seolah-olah berbicara padaku, “Hei, lihatlah jam
berapa sekarang? Sudah saatnya kamu merebahkan diri.” Seperti itulah kira-kira
bisikkan dia saat itu.
Ku pijit-pijit pundakku,
kuremas-remas kepalaku agar lebih rileks.
Kurenggangkan badan,
kulemas-lemaskan otot tangan dan kaki biar segar kembali. Selesai
sudah tugas yang membuat waktu habis hanya untuknya. Kurebahkan badan di atas
kasur empuk kesayangan, ditemani oleh bantal dan guling yang setia
mendampingi.
Entah kenapa malam itu mata sulit untuk terpejam, padahal badan dah berasa remuk redam. Kuterawang
jauh ke atas langit-langit kamar,
kupandangi sekeliling hampir tak beda dari biasanya. Ada perasaan nggak enak
berkecamuk dalam hati, dan suasana berubah menjadi teramat dingin. Nyaris
membekukan jiwa yang kosong.
Mendadak semua badan membeku
dan bulu kuduk merinding, entah apa yang membuat aku seperti itu. Mata
secepat kilat melirik pojokan kamar yang nampak tak biasa, kupandangi dengan
seksama, mencoba memfokuskan diri tuk mencernanya. Oh My God, kaget dan syok serasa ketiban
durian. Seluruh badan bergetar tak karuan, jantung berdegup tanpa irama lagi.
Embak-embak berambut panjang,
berbaju putih nyaris tanpa model, asyik bertengger di pojokan kamar sambil
menundukkan kepalanya. Rambutnya menjuntai menutupi wajahnya yang pucat pasi,
nyaris tanpa aura sama sekali. Pertanyaannya adalah, apa yang dilakuin dia di
pojokan kamar aku? Jangan-jangan dia merindukan seseorang.
Aku tak bisa menggerakkan badan
yang telah lemah lunglai, berharap semoga dia tidak menengadahkan mukanya ke
depan dan melihat aku yang sedang terpaku menatapnya. Bibirku kelu tak
bergerak, hanya terdengar pergerakan suara nafas yang tampak jelas. Kalau ada
sound system waktu itu, sudah pasti jantungku akan terdengar sampai radius
berkilo-kilo jauhnya.
Aku hanya bisa menatap tanpa
bicara, yang ada hanyalah berharap supaya dia cepat pergi dari singgasananya.
Sambil komat-komit dalam hati, kupejamkan mata seraya menyenandungkan hati dan
pikiran supaya diberikan kekuatan agar bisa mengendalikan semua yang
terjadi.
Kubuka mata perlahan, kulirik
pandangan tuk mencarinya. Kubelalakkan mata, kusadarkan diri, kukuatkan semua
yang aku punya. Dan, alhasil dia telah menghilang entah ke mana. Kucari-cari di
setiap sudut ruangan, tak aku temukan sama sekali keberadaan dia di sana.
Alhamdulillah, dia telah kembali ke istananya.
Keringat mengucur di sekujur
tubuh, rasa takut berkecamuk dalam jiwa. Perlahan aku tarik selimut, berdoa
agar tidak terjadi kembali. Aku pejamkan mata sambil menenangkan diri kembali,
berharap semua kondisi cepat berangsur normal. Dan tanpa sadar kudapati diriku
telah lelap di alam bawah sadar.
Sungguh suatu pengalaman yang
sangat tidak aku harapkan, sesuatu yang jauh dari pikiran normal. Tidak
pernah terbersit sedikitpun akan mengalami sesuatu yang mungkin orang lain
pikir, itu adalah di luar nalar manusia. Mimpi apa coba bisa mengalami
hal-hal yang horor bin syerem seperti itu. Semoga tidak terjadi lagi, dan tidak
berharap juga bisa melihat ‘yang tampak tak kasat mata.’
Cukuplah sudah di malam itu saja mengalami kejadian yang amat tidak aku inginkan, dan mungkin semua orang juga
tidak mengharapkan hal yang sama terjadi pada mereka. Sebenarnya bisa dibilang
pengalaman yang menantang, lumayan buat menguras adrenalin. Bagi pecinta
kegiatan yang ekstrim, mungkin tidak ada masalah. Tapi bagi yang jantungan akan
sangat menjadi masalah tentunya.
Segala sesuatunya pasti ada
hikmah di baliknya. Mungkin karena terlalu capek dan pikiran lagi bundet sehingga mempengaruhi kondisi
psikis, siapa tau juga itu hanya halusinasi sesaat saja (berusaha
positif thinking). Dan pada saat itu
aku juga lupa berdoa sebelum tidur. Harap maklum, namanya juga lagi
capek berat. Besok-besok lagi apapun situasi dan kondisinya, ya kalau
bisa selalu ingat sama yang namanya kesaktian ‘doa.'
Jangan menggampangkan maupun
meremehkan hal sekecil apapun, karena “sesuatu yang besar bermula dari sesuatu
yang kecil.” Ambil dan pelajari setiap kejadian sebagai pengalaman untuk
memberikan energi positif yang ‘membangun.'



Komentar
Posting Komentar