Mengurangi Kebosanan Bocah #dirumahaja
Tak pernah ada kisah yang tak bisa digoreskan, selalu ada bahan untuk bisa diceritakan. Seperti beberapa hari ini yang penuh dengan kisah dramatis layaknya drakor kawakan. Merebak dan mewabahnya corona membawa kisah tersendiri bagi pelakonnya, termasuk aku tentunya.
Setelah beberapa daerah menunjukkan angka fantastis penyebaran virus tersebut, maka para petinggi di Indonesia menurunkan perintah untuk ‘merumahkan’ beberapa warganya, termasuk anak-anak.
Untuk beberapa hari ke depan mereka diharuskan manis-manis di rumah dalam rangka mengurangi ‘pembatasan diri dalam berinteraksi,’ guna mempersempit peluang virus hinggap di inang baru alias memberikan kesempatan baginya untuk beranak pinang.
Sudah sekitar satu bulanan bocahku menjalani hari-hari indahnya di rumah. Hari pertama nampak baik-baik saja, masuk minggu kedua mulai kelihatan perubahan grafik yang sangat signifikan.
Seperti emaknya ketika tamu bulanan datang menghampiri, nggak ada angin maupun hujan bawaannya marah-marah tak berujung.
Aku sangat memahami dengan sikapnya yang berasa moody, di kondisi normal saja orang dewasa memiliki emosi yang naik turun, apalagi sekelas anak-anak.
Si emak dibuat bingung dong jadinya?
Dengan keteguhan hati dan kekuatan cinta, mulailah aku berusaha memutar otak menemukan cara biar bocahku nggak bosan nguplek di rumah.
Aku mencoba mengombinasi formula yang sudah ada dibuat agar lebih bervariatif seperti:
1.memanfaatkan permainan yang dia punya, mainan yang bisa menghabiskan waktu tanpa menghilangkan unsur-unsur edukasi. Seperti lego, puzzle, boneka, rumah-rumahan, mobil-mobilan dan sejenisnya. Sebisa mungkin kita juga ikut bermain bersamanya, biar semakin menarik. Biasanya dia kan bermain bersama teman-temannya. Anggap saja kita adalah pengganti teman-temannya, sekaligus momen untuk mendekatkan ortu dengan anak;
2.membacakan dongeng, buku-buku edukasi, buku cerita, sekaligus berperan bersama (ayah, bunda, anak) sebagai tokoh cerita tersebut;
3.melibatkan dia untuk ikut memasak, bersih-bersih rumah, memberi makan ikan, pokoknya memberikan kegiatan yang lumayan bisa buat mengisi waktu dia. Dan tentu saja pekerjaan yang ringan-ringan saja, tetep disesuaikan dengan usianya. Ya walaupun hasilnya tau sendiri lah ya bagaimana? Paling tidak usahanya patut kita apresiasi;
4.kebetulan aku punya gadjet yang sudah nggak kepakek (tab), dan itu aku manfaatkan sebagai alat edukasi berbasis teknologi khusus buat dia. Jadi gadjet tersebut aku isi dengan aplikasi-aplikasi edukasi, misalnya aplikasi menggambar, mengaji, berhitung, dan banyak lagi lainnya. Selain praktis bisa dibawa ke mana-mana, juga sangat mudah digunakan dan lumayan membuat anak tidak merasa bosan. Sekaligus mengenalkan teknologi ke anak tanpa mengurangi fungsi positifnya, karena sudah disetting sedemikian rupa agar tidak ada aplikasi lain selain aplikasi edukasi;
5.pembelajaran secara konvensional tetap aku berikan, biar bagaimanapun yang konvensional itu tetap terpakai. Apalagi untuk anak-anak, konvensional harus tetap kita ke depankan untuk melatih motorik dan sensorik. Serta mengenal secara nyata bentuk dan fungsi perlengkapan belajar seperti, buku, pensil, penghapus dan teman-temannya;
6.melakukan kegiatan ibadah bersama keluarga, yang biasa bapaknya pulang telat melulu dan sangat sibuk (kok emaknya jadi curhat ya), saat ini momen yang sangat pas buat saling mendekatkan diri utamanya keluarga dan ibadah;
7.oh ya satu lagi, menghabiskan waktu dengan menyalurkan hobi dia yaitu menggambar dan mewarnai. Tidak melulu selama di rumah dia harus belajar, yang ada malah tambah bosan tuh bocah. Jadi aku selang seling kapan harus bermain kapan harus belajar, dengan catatan dan patut digarisbawahi ‘tanpa ada pemaksaan.’ Secara dirumahkan dalam beberapa hari dan sampai waktu yang belum ditentukan, kalau kita memaksakan bocah harus belajar terus juga akan menjadikan beban serta tekanan.
Begitulah kegiatan aku dan bocahku dalam rangka mengurangi kebosanan dia selama #dirumahaja.
Semoga satu dari tujuh angka di atas bisa menjadi salah satu yang bisa ditiru oleh emak-emak atau siapapun yang mengalami nasib sama seperti kami berdua.
SEHAT TERUS, TETAP CERIA DAN SEMANGAT!








Komentar
Posting Komentar