Review Film Inseparable Bros
Halaman 1
Diem di rumah ternyata tak melulu membosankan bila kita bisa memanfaatkan peluang, contohnya tetangga aku sekaligus temen rasa saudara yang bisa menemukan formula bagaimana membuat rasa sambal bisa nendang banget dan pada akhirnya dikomersilkan. Padahal bermula dari karena gabut di rumah bingung mau ngapain.
Sama halnya aku yang glundang glundung bingung takut kepentung dan bikin linglung. Mencoba membuat formula sambal seperti Mpok Yonis sepertinya nggak mungkin banget, yang ada rasanya bisa kacau balau dan bikin galau. Ending-endingnya ya senam jari aja, mengolah kata menambah makna.
Hari-hari diisi dengan berfikir kira-kira bahan apa ya, yang bisa aku tuangkan dalam goresan sang Pendekar Sapu. Nah, kemaren tuh pas lagi asyik makan sambil nonton TV tiba-tiba muncul suguhan menarik. Film korea dengan judul “Inseparable Bros” memikat perhatianku.
Film dengan genre drama komedi, dirilis tgl 1 Mei 2019, disutradarai oleh Yook Sang Hyo, ditulis oleh Yook Sang Hyo, Lee Soo Ah, dan Na Hyeon, serta dibintangi oleh Se-Ha (Shin Ha-Kyun) dan Dong-Goo (Lee Kwang-Soo) mampu membuat aku menitikkan air mata. Film ini mengisahkan tentang bagaimana persahabatan dan cara bertahan hidup teman-teman yang memiliki ‘keterbatasan’ fisik dan mental.
Di sebuah tempat penampungan yang berisikan anak-anak ‘special,’ tinggallah Se-Ha dan Dong-Goo yang masing-masing memiliki keterbatasan. Se-Ha adalah anak yang pintar namun memiliki keterbatasan fisik dikarenakan pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dia lumpuh total, sedangkan Dong-Goo secara fisik sehat namun mengalami keterbatasan secara mental.
Keduanya bertemu di sebuah rumah penampungan yang pada akhirnya mendekatkan mereka, tidak hanya sebagai sahabat melainkan lebih dari itu. Bisa dibilang hubungan mereka sudah seperti saudara kandung. Mereka saling mengisi dan melengkapi satu sama lain, ibarat orang lagi kasmaran yang tidak bisa dipisahkan.
Bagaimana tidak? Se-Ha adalah otak dari Dong-Goo sedangkan Dong-Goo adalah fisik dari Se-Ha, Se-Ha yang secara fisik lumpuh total tidak bisa beraktifitas apa-apa terbantukan oleh kehadiran Dong-Goo yang selalu setia menemani dan membantu ke mana saja Se-Ha pergi.
Tanpa bantuan Dong-Goo, Se-Ha tidak akan bisa leluasa bergerak ke sana kemari. Karena Se-Ha hanya bisa duduk di atas kursi roda tanpa bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya terkecuali bagian wajah dan mulut. Dong-Goo dengan telaten mendorong kursi roda Se-Ha, bahkan sampai makan dan ke kamar kecil pun, dia yang membantunya.
Begitu juga sebaliknya, Dong-Goo memiliki keterbatasan secara mental sehingga sangat mudah hilang dan riskan ditipu orang. Karena Se-Ha tergolong anak yang cerdas makanya bisa dibilang dia adalah otak dari Dong-Goo.
Hari-hari selalu mereka lalui bersama sampai akhirnya mereka beranjak dewasa. 20 tahun berlalu tanpa terasa meninggalkan sebuah kisah mendalam, di mana sang Pastor yang selama ini memenuhi kebutuhan semua penghuni rumah penampungan, telah berpulang meninggalkan semua yang entah harus bagaimana mereka hidup.
Konflik pun dimulai, berawal dari tagihan rumah penampungan yang sudah tenggat waktu. Jika tidak ada pembayaran dalam kurun waktu yang sudah ditetapkan, mereka semua akan diusir dari sana. Karena hanya Se-Ha yang tergolong cerdas secara pemikiran, maka dia mencoba mencari cara bagaimana bisa menghasilkan uang.
Suatu ketika mereka berdua lagi belanja di sebuah minimarket untuk membeli kebutuhan, pas menyerahkan barang-barang hendak dibayar ada sedikit insiden kalau uang mereka kurang. Sang kasir hanya bisa bengong melihat mereka. Dengan kecerdasan Se-Ha, dia berusaha untuk melobi sang kasir supaya merelakan kekurangannya dengan dalih keterbatasan mereka.
Tak serta merta setuju begitu saja, kasir pun melobi balik bahwa dia tidak bisa memberikan cuma-cuma begitu saja. Ada syarat dan ketentuan berlaku, begitu kira-kira isi percakapannya waktu itu. Mereka berdua harus membantu adiknya untuk mendapatkan sertifikat pelayanan demi mendapatkan sebuah kerjaan.
Jadi di sana itu yang namanya sertifikat pelayanan biasa digunakan sebagai penunjang untuk mendapatkan pekerjaan, misalnya dengan menjadi pekerja sosial. Nah, di sanalah Se-Ha kemudian mendapatkan ide. Dia memanfaatkan teman-temannya yang ada di rumah penampungan untuk berkolaborasi dengan para pekerja sosial yang ingin mendapatkan sertifikat.
Karena mereka yang ingin mendapatkan sertifikat tidak gratis, jadi lumayan penghasilannya untuk menutup pembayaran tagihan rumah penampungan yang mereka tempati. Ibarat kata layaknya simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain.
Dong-Goo memiliki kegemaran berenang sedari kecil hingga dewasa. Dia selalu meminta diantar berenang oleh Se-Ha (karena Se-Ha yang tau jalannya), ke sebuah pusat olah raga. Kemudian mereka dipertemukan dengan seorang pelatih renang, yang diperankan oleh Esom sebagai Mi-Hyeon.
Bersama Mi-Hyeon lah Dong-Goo dibimbing untuk menjadi seorang perenang yang handal, tanpa harus takut terkotak-kotak dengan predikat mereka sebagai kaum yang ‘special.’ Didukung oleh semangat serta dorongan Se-Ha pula akhirnya Dong-Goo bisa mengikuti perlombaan renang yang rutin diadakan di sana.



Komentar
Posting Komentar