Mata Batin




       Masa SMA adalah masa yang paling indah, masa kuliah sama dengan masa yang penuh gundah. Kira-kira itulah yang tersemat dalam benak aku sebagai seseorang yang pernah berpredikat sebagai mahasiswi. SMA masa yang penuh kenangan berkesan bagi aku, di mana di masa itulah aku bertemu dengan dua orang sahabat manis.
                
       Masa kuliah adalah masa tergundah dalam catatan sejarah aku. Selain banyak tugas yang berhasil menguras tenaga dan pikiran,  aku juga menemukan banyak kisah klasik yang menarik. Salah satunya adalah makin pekanya aku pada hal-hal yang kurang bisa dinalar oleh manusia, sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.
               
       Lah, kok bisa sih. Nah, ya sama aku juga nggak paham dengan kondisi tersebut. Hal tersebut muncul dan semakin peka setelah aku pernah mengalami sakit yang bisa dibilang menguras semuanya, ya tenaga, pikiran, serta materi. Tapi nggak tau juga sakitnya waktu itu apa, karena dokter sekelas Profesor aja bingung harus mendiagnosa apa.
                
       Dengan berbekal usaha, kesabaran, pasrah, serta keikhlasan, aku dan keluargaku menerima dan menjalani ketetapan Yang Maha Kuasa. Seiring berjalannya waktu, dengan ketekunan dan kekuatan doa, Alhamdulillah aku bisa sembuh dari rasa sakit dan derita yang berkepanjangan.
                
       Hari-hari terlewati seperti biasa, kehidupanku kembali normal layaknya manusia sehat lainnya. Ku songsong hari esok dengan tapak kepastian dan senyum percaya diri kembali. Menjadi gadis ceria, lucu nan imut-imut lagi amit-amit. Percaya nggak sih dengan pernyataanku yang terakhir tadi kira-kira? Harus percaya dong, nyatanya sampai sekarang badan aku masih kecil, hehehe.
               
       Seringnya aku merasakan hal-hal yang sensitif membuat aku bertanya-tanya, nggak biasanya aku begini. Awal mulanya hanya sebatas merasakan kehadiran ‘yang lain’ tanpa bisa melihat, tapi lama kelamaan menjadi naik level statusnya. Syerem kan jadinya, sudah barang tentu lah. Siapa yang nggak bergidik mengalami kejadian seperti itu.
               
       Salah satu cerita tersebut sudah pernah aku torehkan di blog aku sebelumnya https://pendekarsapu.blogspot.com/2020/04/kejutan-tak-terduga.html. Nah, itu satu di antara kisah aku yang bejibun syeremnya. Beberapa kisah dilakonkan oleh Mbak Kunti berambut panjang alumni model shampoo, Gende**** mantan olahragawan berbadan gede, Po**** dulunya pengusaha pemutih pakaian, penggemar kain putih dan telah sukses menggaet Mbak Kunti sebagai rekan bisnisnya.
               
      Lakon-lakon di atas itu sering banget mengisi hari-hari ku saat itu, padahal aku nggak mau berteman sama mereka. Eh, merekanya ngotot aja nongol, ya ngajak arisan, ngajak nongkrong, ngajak ngrumpi, padahal tugas kuliah aku banyak banget. Syedih kan jadinya. Kalian mau nggak? Kalau mau ntar aku bilangin deh sama mereka.
                
      Hal-hal yang ‘begituan’ sangat tidak asing lagi bagi aku, ibarat makanan selalu ada camilan mewarnai tingkah polaku. Di awal-awal memang mengganggu banget, terutamanya bagi kesehatan. Aku jadi susah tidur karena sesekali suka kebawa mimpi. Dan kalau sudah masuk ke mimpi itu serasa aku berada di dunia mereka. Apa nggak tambah syerem lagi tuh, karena di dunia mimpi itu seperti kita melayang di dunia nyata.
               
      Ditambah lagi kampus tempat aku menuntut ilmu suka bertengger ‘embak-embak’ penjaga kamar mandi. Sebenarnya lumayan sih, bisa jadi obat yang sangat ampuh buat nahan sakit perut. Dijamin nggak jadi kebelet kalau sudah ada si mbak di sana, padahal doi nggak ngapa-ngapain juga. Ya, paling cuman berpose berdiri anggun nan rupawan layaknya model iklan shampoo yang lagi syuting.
               
      Kalau ada mata kuliah di jam terakhir, sebelumnya aku sudah menyiapkan amunisi mengosongkan isi perut beserta cairan-cairan yang emang kudu dibuang. Jadi malam-malam aku sudah nggak diribetkan lagi buat berjibaku dengan si embak-embak tadi. Cari aman dong, dari pada ntar aku diajakin bolos kuliah, kan nggak banget jadinya.
               
      Pernah suatu kali, temen-temen pada ribut karena cerita salah seorang mahasiswa. Katanya pas ke kamar mandi dia ngliat sesuatu, trus langsung ngacir tanpa lihat kanan kiri sampai pada akhirnya dia kejedot pintu. Aku hanya bisa bilang, hadiah termanis dari embak-embak yang paling manis di kampus, buat dia yang necis karena kebanyakan buncis, maksa banget judulnya. Hehehehe.
               
      Siapa juga yang mau digodain, apalagi sampai kejedot pintu. Apa salah dan dosa si pintu, sudah anteng tegap berdiri dengan kokoh, eh, malah ada yang nyosor. Bukan salah si pintu juga ada di sana, yang jelas salah sendiri lewat tanpa permisi. Kalau mau tanya bab “Salah dan Benar” masuknya ke ranah hukum saja, bukan di sini. Larilah ke www.klikhukum.id biar melek hukum, di sini mah tempatnya curhat-curhatan saja.
               
       Ok, baiklah kalau begitu, lanjut lagi ceritanya. Selidik punya selidik, konon katanya waktu itu alias di jaman tempoe doloe. Ada perempuan yang bunuh diri di sana, entah penyebabnya karena apa aku tidak begitu paham. Dan tidak ingin menelisik lebih jauh, karena hanya sebatas kabar angin yang entah apakah bisa dipertanggungjawabkan apa tidak kebenarannya.
               
       Bagi aku pribadi, mau dulunya ‘mereka’ seperti apa tidak terlalu berimbas. Yang terpenting adalah mereka tidak muncul di hadapan aku. Karena pengaruh kehadiran mereka itu sangat besar, apalagi waktu itu masih belum terlalu bisa mengendalikan rasa takut. Coba bayangkan bagaimana mengganggunya penampakan yang tiba-tiba badalah muncul di depan mata. Kalian aja paling pingsan, atau bisa-bisa jantungan mendadak.
               
       Sedikit demi sedikit akhirnya kutemukan jawaban bagaimana aku harus bisa melewati semua itu. Kuncinya adalah dengan meleburkan rasa takut bersanding keberanian yang digerakkan oleh pikiran serta disalurkan ke dalam hati dan pada akhirnya menjadi rasa.

 Pengendalian diri sebenarnya datangnya dari diri sendiri bukan dari orang lain, kalau dari orang lain itu namanya bagian dari curhatan. Poin utamanya adalah bagaimana memanajemen hati, pikiran, emosi dan jiwa, agar bisa seimbang dan sinkron dalam tubuh. Semakin bagus mengolah qolbu diri, semakin kokoh pula pijakan demi sebuah pegangan hidup.

Komentar

Postingan Populer