Review Film Inseparable Bros
Halaman 2
Hingga suatu hari, mendadak ibu kandung Dong-Goo yang telah meninggalkan dia di kolam renang saat Dong-Goo kecil muncul kembali hendak mengambil ke sisinya. Dengan dalih ekonominya sekarang sudah stabil, makanya dia kembali lagi menemui Dong-Goo.
Karena merasa ada kejanggalan Se-Ha menolaknya, dia merasa ibu Dong-Goo hanya ingin memanfaatkan Dong-Goo saja setelah tau bahwa Dong-Goo memiliki kelebihan jago berenang. Konflik berkepanjangan terjadi di sini. Merasa tidak terima dengan tuduhan Se-Ha, akhirnya ibu Dong-Goo membawa kasus ini ke pengadilan demi menarik Dong-Goo kembali ke pelukannya.
Tarik ulur pun terjadi, dan pada akhirnya setelah proses sidang yang menyayat hati. Hak wali jatuh ke tangan ibu Dong-Goo, dengan segala pertimbangan yang telah ditetapkan. Sesak dada, pilu serta sakit dirasakan oleh Se-Ha karena harus berpisah dengan Dong-Goo yang sudah dianggap adiknya sendiri. Kebersamaan yang selama ini mereka jalani harus terpisahkan oleh momen yang benar-benar tidak mereka duga sama sekali.
Walaupun di hati mereka sudah terpatri nama mereka masing-masing, tapi kondisilah yang harus memisahkan mereka. Dengan penuh keterpaksaan akhirnya mereka berpisah. Dong-Goo kembali ke pelukan sang ibu yang selama ini telah meninggalkan dia, bersama berkumpul kembali dengan ibu, ayah, serta adik perempuan dia.
Di tempat barunya Dong-Goo serta Se-Ha merasakan ada ketidaklengkapan di hidup mereka. Beberapa tahun kebersamaan mereka, merubah segalanya. Sampai pada akhirnya Dong-Goo dinyatakan hilang karena insiden kebakaran di restoran orang tua Dong-Goo.
Dong-Goo yang waktu itu berada di restoran mencoba membantu pembeli untuk menyalakan kompor. Eh, malah jadi kebakaran karena pas menyalakan api, dia melamun memikirkan Se-Ha dan tanpa sengaja menyulut api dengan kondisi nggak pas sehingga terjadilah kebakaran dan keributan di restoran.
Akhirnya Dong-Goo pergi keluar menapaki jalanan entah ke mana, dalam pikirannya hanya Se-Ha yang terlintas. Dia harus bertemu Se-Ha, karena Se-Ha tidak bisa apa-apa tanpanya. Kemudian dia menghentikan taksi tanpa tau harus ke mana yang pada akhirnya dia berada di rumah penampungan tempat mereka bertumbuh bersama.
Tak ada tempat bagi Dong-Goo untuk berteduh karena lokasinya yang sudah dihancurkan dan hanya meninggalkan barang-barang berserakan. Ibunya bingung harus mencarinya ke mana, yang ada hanyalah terus bertanya kepada Se-Ha. Se-Ha menjadi marah menganggap keluarga Dong-Goo tidak bisa merawat Dong-Goo dengan baik, sehingga Dong-Goo menjadi hilang.
Setelah beberapa saat akhirnya Se-Ha teringat bahwa Dong-Goo pasti berada di rumah penampungan, kemudian dia memberitahukannya kepada keluarga Dong-Goo. Dengan segera ibu Dong-Goo ke lokasi tersebut dan menemukan Dong-Goo berada di sana sedang terlelap di luar bongkahan gedung yang sudah porak poranda.
Beberapa hari berlalu semenjak hilangnya Dong-Goo meninggalkan kisah yang dalam bagi mereka berdua terutamanya Se-Ha. Hari-hari Se-Ha diisi oleh perlakuan pekerja sosial yang melayani dia tidak sepenuh hati, tidak seperti perlakuan Dong-Goo padanya yang sangat tulus.
Sampai pada akhirnya Se-Ha diberikan sebuah kursi roda otomatis oleh pekerja sosial tersebut yang bisa digerakkan hanya dengan menggunakan mulutnya, tanpa bantuan didorong oleh orang lain. Saking pekerja sosialnya sangat tidak ingin berlama-lama berkutat dengannya terus.
Begitu juga dengan Dong-Goo yang harus mengikuti perlombaan berenang. Mi-Hyeon mencoba menghubungi Se-Ha agar mau memberikan support buat Dong-Goo, tapi Se-Ha menolak. Dengan perasaan kesal Mi-Hyeon berlalu segera ke lokasi perlombaan itu diadakan.
Se-Ha yang termenung dengan apa yang baru saja dia lakuin menorehkan cerita tersendiri, bagaimana dia sedang berjibaku dengan pekerja sosial yang bersamanya. Ketika dia meminta minum, malah hanya disodorkan begitu saja tanpa dibantu dituangkan ke mulutnya. Sedih dan marah menggelayutinya dan membuat sang pekerja sosial segera mencarikan sedotan untuknya.
Mata Se-Ha tetiba melihat sebuah tas dipojokan yang hendak ia dekati, tapi apa daya dengan segala keterbatasannya dia malah menabrak tempat tas tersebut hingga menjatuhkan seisi tas yang dalamnya ternyata sedotan semua.
Kaget dan hanya bisa menatap lama, sampai pada akhirnya dia meluncurkan dirinya ke luar ruangan dan pergi menyusul Dong-Goo yang sedang berjibaku di medan perlombaan. Dengan hanya mengandalkan mulutnya, kursi rodanya melaju pesat bak pesawat tempur yang siap beraksi menghancurkan lawan-lawannya.
Saking tidak terkontrolnya kecepatannya melaju, sampai-sampai dia menabrak pohon yang berada di pinggir jalan. Dan ... gubrak, dia terjatuh menghantam trotoar sebelum dia sampai di lokasi. Dong-Goo yang sudah mulai berlomba terus melaju dengan kecepatan cahaya menembus dinginnya air.
Tapi tiba-tiba di pertengahan lomba dia berhenti, imbas trauma dulu ditinggalkan oleh ibunya. Sehingga menjadi suatu kebiasaan bahwa tiap kali berenang dan sudah berada di pertengahan kolam dia berhenti karena teringat ibunya yang hilang entah ke mana.
Tak lama Se-Ha muncul dengan berlumuran darah menghampiri Dong-Goo. Setelah melihat kedatangan Se-Ha, Dong-Goo segera bereaksi dengan secepat kilat melanjutkan perlombaan sampai di garis finish.
Rasa haru mewarnai seisi ruangan yang ada di sana. Dong-Goo menghampiri Se-Ha dan menyatukan tangannya ke Se-Ha agar jangan meninggalkan dia lagi. Dan pada akhirnya mereka bersatu kembali dengan dukungan ibu Dong-Goo dan sahabat-sahabat mereka yang selama ini memberikan semangat kepada mereka berdua.
So begitulah akhir dari cerita tersebut. Sungguh bahwa menjadi saudara tidaklah harus sedarah, karena yang dibutuhkan adalah rasa tulus dari hati yang paling dalam. Bukan panggung sandiwara layaknya drama yang dipertontonkan demi sebuah aksi yang beroyalti tanpa hakiki pasti.
Halaman sebelumnya




Komentar
Posting Komentar